Mereka menyerukan rekan-rekan mereka di seluruh dunia untuk menggunakan istilah yang tepat yang didefinisikan dengan baik oleh organisasi hak asasi manusia internasional. Beberapa istilah yang dinilai tepat itu termasuk “apartheid”, “pembersihan etnik”, dan “genosida” untuk menggambarkan kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
“Harapan saya melalui surat ini adalah untuk menghilangkan budaya ketakutan (menyuarakan kebenaran) seputar masalah ini,” kata Abdallah Fayyad, finalis Pulitzer Prize 2022 dan juga mantan anggota dewan redaksi di Boston Globe, yang menandatangani surat tersebut, seperti dikutip Washington Post.
Bagi sebagian jurnalis, menandatangani surat terbuka tersebut adalag tindakan yang berani dan bahkan berisiko. Sebab, sebelumnya tak sedikit wartawan dipecat dari beberapa perusahaan media karena mendukung sikap politik publik yang dapat membuat mereka dituduh melakukan bias.
“Tujuannya (surat terbuka ini) hanyalah meminta para jurnalis melakukan pekerjaan mereka,” kata Suhauna Hussain, reporter di Los Angeles Times yang juga menandatangani surat tersebut.
Pada 7 Oktober, gerakan pejuang Hamas melancarkan serangan roket besar-besaran yang mengejutkan terhadap Israel dari Jalur Gaza. Serangan yang disebut “Operasi Banjir al-Aqsa” itu berhasil menewaskan 1.400 orang Israel. Tak hanya itu, Hamas juga menawan lebih dari 200 orang Israel lainnya.