Akademi Teknik China belum memberikan penjelasan terperinci terkait penyebab kematian sejumlah anggotanya tersebut.
Pada akhir Desember lalu, mantan ilmuwan utama di Pusat Pengendalian Penyakit China, Zeng Guang, menyatakan bahwa menurut perkiraannya lebih dari 80 persen penduduk Beijing, terinfeksi Covid-19. Sementara Beijing adalah rumah bagi sebagian besar ilmuwan China.
Seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit besar di Beijing mengatakan kepada SCMP bahwa semua anggota akademi biasanya menerima perawatan medis berkualitas tinggi yang setara dengan yang diterima oleh wakil menteri. Akan tetapi, tidak ada ruang di rumah sakit yang tersisa sekarang ini lantaran tingginya beban tampung pasien yang disebabkan oleh pelonggaran pembatasan Covid di China.
Seorang ilmuwan yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan, masih terlalu dini untuk mengevaluasi dampak pandemi Covid terhadap sektor sains dan teknologi China.
“Sekarang perbatasan kita dibuka kembali. Kami dapat bertemu dengan rekan-rekan dari seluruh dunia untuk menghasilkan ide-ide baru lagi, dan bekerja sama dalam beberapa proyek yang menarik,” katanya.
Pada Desember lalu, Pemerintah China mulai secara bertahap melonggarkan pembatasan anti-Covid yang selama ini diterapkan Beijing dengan sangat ketat dan tanpa toleransi.