Beberapa hari setelah serangan dimulai, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk pelayaran. Sejak itu, mereka mulai mengizinkan sejumlah kecil kapal yang disetujui untuk melintas, terutama berbendera India, Pakistan, dan China. Situasi ini, ditambah serangan Iran terhadap aset militer AS dan infrastruktur energi di kawasan Teluk, mengakibatkan harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel, dibandingkan harga sebelum perang untuk minyak mentah Brent sekitar 65 dolar AS.
Setelah laporan mengenai rencana gencatan senjata 15 poin dari pemerintahan Trump muncul pada Rabu lalu, harga saham global sedikit naik sementara harga minyak turun tipis. Namun, para pengamat menilai masih belum jelas apakah pembicaraan benar-benar terjadi. Kalaupun memang terjadi, kedua pihak belum tentu mencapai kesepakatan karena tuntutan mereka masih sangat berjauhan.
AS mengirimkan rencana damai 15 poin kepada Iran melalui Pakistan. Inti dari rencana ini adalah gencatan senjata selama satu bulan, sebagai jeda untuk membuka ruang negosiasi lebih lanjut mengenai akhir perang.
Namun, di balik tawaran damai itu, terdapat sejumlah tuntutan yang sangat rinci dan menyasar hampir seluruh aspek kekuatan strategis Iran.
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (26/3/2026), beberapa poin utama dari 15 butir rencana perdamaian yang digagas Trump, di antaranya: