Yang membuat kagum bukan hanya kedalaman dan detail gambaran jejak Rasululullah, namun juga teknologi imersif dan layar interakif pada 30 paviliun (ruang) di museum ini. Setiap paviliun menampilkan gambar yang tampak begitu nyata dalam pola tiga dimensi.
Lebih dari itu, isi museum disajikan dalam enam bahasa termasuk Indonesia. Sebagai contoh pada pavilun tentang mimbar kayu bertingkat tiga yang digunakan Rasulullah. Kemudian, replika batang pohon kurma.
Pada layar saat Bahasa Indonesia dipilih, tulisan yang muncul adalah “pohon kurma yang bersedih dan Nabi SAW yang pengasih”.
Dalam layar juga tertera keterangan, “Nabi SAW menyandarkan punggungnya ke batang pohon kurma. Batang pohon kurma itu dijadikan sebagai atap dan tiang Masjid Nabawi yang mulia.”
Terdapat pula semacam bioskop mini yang memutar keluarga Rasulullah dan kehidupan sepeninggal hati. Layar lebar itu tampak begitu hidup sehingga menggugah hati.
Dengan segala interaktif dan gambaran yang indah tiap bagian, tak mengherankan banyak pengunjung sesaat terpatung dan larut menyelami titik demi titik kehidupan Rasulullah, manusia paling mulia di muka bumi. “I’m impressed,” puji Imran asal Karachi, Pakistan.