JAKARTA, iNews.id – Petugas lapangan memeriksa instalasi panas bumi Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026). Lapangan panas bumi tertua ini menunjukkan perannya sebagai salah satu sumber energi bersih andalan nasional. Dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), kawasan dengan kapasitas terpasang 235 megawatt (MW) tersebut memasok listrik ke sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali) sekaligus mendukung target transisi energi dan pengurangan emisi Indonesia. Berlokasi di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kamojang memiliki wilayah kerja sekitar 45.380 hektare, namun hanya sekitar 110 hektare atau 0,2 persen yang digunakan untuk fasilitas operasional.
Listrik yang dihasilkan Kamojang menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan pasokan energi di jaringan Jamali, sistem kelistrikan terbesar di Indonesia. Selain itu, operasional lapangan panas bumi ini memiliki potensi pengurangan emisi hingga 1,22 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per tahun dan mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 260 ribu rumah tangga. Kamojang juga menjadi bagian dari portofolio PGE yang mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.932 MW.
Sejarah panjang Kamojang dimulai hampir satu abad lalu ketika tim peneliti Belanda melakukan pengeboran lima sumur eksplorasi pada 1926–1928. Salah satu sumur bersejarah, KMJ-3, masih menjadi simbol perkembangan industri panas bumi nasional. Pengembangan lapangan berlanjut melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan Selandia Baru pada dekade 1970-an hingga Unit 1 beroperasi komersial pada 1983. Setelah penambahan beberapa unit pembangkit hingga 2015, kapasitas terpasang Kamojang kini mencapai 235 MW.
Saat ini, Area Kamojang memiliki 98 sumur yang tersebar dalam 38 klaster, terdiri atas 64 sumur produksi, sembilan sumur injeksi, 16 sumur monitoring, dan sembilan sumur yang sudah tidak digunakan. Operasionalnya didukung enam jalur pipa sepanjang sekitar 27 kilometer yang menghubungkan sumber panas bumi dengan unit pembangkit. Menurut perusahaan, keberadaan sumur KMJ-3 yang telah berusia hampir satu abad menjadi bukti bahwa panas bumi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan apabila dikelola dengan baik.
Selain menjaga produksi energi, PGE juga menyoroti aspek keselamatan dan lingkungan. Hingga 31 Mei 2026, Area Kamojang mencatat nol fatalitas dan nol kehilangan waktu kerja akibat kecelakaan. Perusahaan juga melaporkan penghindaran emisi sebesar 534.608 ton CO2e sepanjang tahun berjalan. Capaian tersebut turut diperkuat dengan raihan PROPER Emas selama 14 kali berturut-turut, menjadikan Kamojang sebagai satu-satunya entitas panas bumi di Indonesia yang mencatat prestasi tersebut. Kamojang pun menjadi contoh pemanfaatan sumber daya panas bumi domestik untuk memperkuat ketahanan energi dan mendukung agenda dekarbonisasi nasional.