Agar generasi muda terus memiliki semangat untuk melestarikan batik, yang pada akhirnya juga akan menanamkan semangat bagi mereka untuk menekuni industri batik Indonesia. Sebab, 10 tahun atau 20 tahun ke depan, di tangan merekalah industri batik Indonesia akan berada.
“Mari bersama Yayasan Batik Indonesia, kita terus menggerakkan Generasi Bangga Berbatik, yang merupakan wujud cinta kita untuk batik Indonesia. Bangga Berbatik juga berarti bangga dengan produksi dalam negeri yang saat ini juga menjadi salah satu program pemerintah lewat Bangga Buatan Indonesia,” ujarnya.
Dalam rangkaian pameran itu, YBI juga menyelenggarakan fashion show yang dibawakan oleh generasi milenial, serta atraksi dance K Pop. Pada fashion show yang digelar menjelang pameran berakhir, Sabtu, 16 Oktober dan Minggu, 17 Oktober lalu, hadir busana karya desainer muda [bi] dan Iyonono.
Kedua desainer itu dipilih, karena dianggap mewakili generasi muda perancang batik, yang mampu mengemas batik menjadi kekinian. Selain terlihat stylish dan tidak biasa, batik yang dirancang juga memberikan kebebasan dan kepraktisan bagi pemakainya. Ini terlihat dari atraksi dance K Pop yang menggunakan kostum rancangan mereka, namun tetap leluasa untuk beratraksi.
Fashion show Healing Tree Batik Fever Exhibition sendiri dibawakan oleh generasi milenial. Anak-anak muda yang tidak canggung dalam pakaian batik dan tetap terlihat menarik. Selain itu, Yayasan Batik Indonesia juga melibatkan sejumlah konten kreator dari generasi milenial. Mereka diajak mempopulerkan penggunaan outer batik bermotif Mega Mendung dengan kreativitas yang mereka ciptakan.