"Jujur aku sedih, karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan,” jelas Tasya.
"Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru harus dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya,” tambahnya.
Sebelumnya, Tasya Kamila mengungkap laporan kontribusi yang sudah ia lakukan sebagai siswa penerima LPDP. Menempuh pendidikan S2 di Colombuia University, Amerika Serikat, ibu dua anak itu menjabarkan apa saja kontribusi yang sudah ia berikan pada Indonesia pasca lulus tahun 2018-2023.
Salah satunya adalah berkomitmen untuk pulang ke Indonesia pascalulus dan selama masa bakti. Kemudian, menjadi jembatan antara pemerintah (policymaker) dan publik dalam kapasitas sebagai figur publik.
Lalu, tetap aktif sebagai Duta Lingkungan Hidup bersama Kementerian Lingkungan Hidup (dan Kehutanan), terlibat dalam berbagai program edukasi lingkungan baik offline maupun online, hosting podcast, hingga menjadi Dewan Pertimbangan Kalpataru 2022.
Tasya mengatakan masyarakat berhak tahu kontribusi yang sudah ia lakukan mengingat dirinya bersekolah di luar negeri dengan dana APBN.
Pascalulus, Tasya Kamila menjelaskan dirinya aktif di berbagai kegiatan dan kelembagaan di Indonesia, termasuk bekerja sama dengan sejumlah kementerian.