"Malam Rabu kalau nggak salah, malam Rabu minggu ini komunikasi terakhir. Cuma kayak ngasih tahu ada seminar buat saya ikutin. Enggak sih, enggak ada tanda-tanda apa-apa," tuturnya.
Tak ada firasat apa pun. Hingga Minggu pagi sekitar pukul 08.30 WIB, Rambu menerima telepon dari kakaknya yang mengabarkan bahwa sang ayah telah dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya menurun. Saat dirinya bergegas menuju rumah sakit, kabar duka pun datang. Sang ayah dinyatakan telah meninggal dunia.
"Saya kurang tahu spesifiknya, tapi saya dikabarin sekitar jam 8 lewat, 8.30-an. Yang ngabarin kakak, abang. Kayak ngabarin Papa masuk rumah sakit, terus sudah, langsung ke rumah sakit, terus pas telepon lagi mau ngabarin lagi OTW, dikabarinya sudah enggak ada," katanya.
Rambu juga mengungkapkan bahwa Temon selama ini diketahui memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Namun, di mata keluarga, almarhum merupakan pribadi yang sangat kuat dan tidak pernah ingin membebani anak-anaknya dengan keluhan tentang kondisi kesehatannya.
"Saya tahunya punya darah tinggi. Yang saya tahu itu, darah tinggi aja sih. Papa tuh enggak pernah mengeluh kalau sakit. Dia suka dipendam sendiri aja," ungkapnya.