"Ruben sudah melihat ada gelagat khawatir rumah yang menjadi harta bersama ini diklaim adalah harta yang bukan menjadi harta bersama," tutur Minola.
Bagi Ruben, persoalan ini bukan semata-mata soal nilai materi yang telah dikeluarkan. Yang lebih menjadi perhatian adalah bagaimana anak-anak mereka memandang peran sang ayah di kemudian hari.
Minola menjelaskan, Ruben tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan anggapan bahwa dirinya tidak memiliki kontribusi terhadap rumah yang selama ini mereka tempati. Kekhawatiran tersebut muncul apabila tidak ada catatan yang jelas mengenai keterlibatannya dalam pembayaran aset tersebut.
"Yang akhirnya ini bisa membuat Ruben khawatir anak-anak yang ada dalam pengasuhan ibunya berpikir bahwa ayahnya enggak buat apa-apa. Ayahnya enggak memberikan apa-apa. Bahkan rumah itu pun ayahnya enggak ada andilnya," katanya.
Untuk menghindari kesalahpahaman di masa depan, pihak Ruben menawarkan solusi berupa perhitungan secara transparan mengenai seluruh nominal cicilan yang telah dibayarkan selama ini. Dengan demikian, jika rumah tersebut diambil alih sepenuhnya oleh Sarwendah, kontribusi Ruben tetap tercatat dengan jelas.
Langkah tersebut dinilai sebagai jalan tengah agar tidak terjadi perdebatan berkepanjangan mengenai status rumah maupun besaran kontribusi masing-masing pihak. Selain itu, kejelasan perhitungan juga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang objektif kepada anak-anak mereka terkait sejarah kepemilikan aset tersebut.
Hingga kini, perselisihan harta gono-gini antara Ruben Onsu dan Sarwendah masih terus bergulir. Sejumlah aset yang diperoleh selama pernikahan menjadi bagian dari proses penyelesaian pasca-perceraian yang tengah berlangsung.