"Kami lalu mengirimkan doa di samping jenazah beberapa saat. Tamu datang silih berganti tanpa henti, dan perlakuan ibunda almarhum kepada semua teman dan sahabat Vidi sama, penuh kasih, seperti kepada anak-anaknya sendiri," ucap Chua.
"Ada yang datang sambil menangis memeluk beliau (ibu Vidi). Beliau justri mengusap-usap mereka untuk menenangkan. Baik sekali. Ucapan terima kasih tak pernah putus dari mulutnya kepada siapa pun yang datang," ungkapnya.
Dan setelah itu, Chua pun meminta izin untuk pamit, salah satunya juga ke ayah Vidi, Harry Kis.
Saat berpamitan, lagi dan lagi kami disambut dengan senyum yang sangat manis. Senyum tulus yang sampai menyipit, dengan garis di sudut matanya. Senyum yang hangat sekali.
"Oh iya, malam itu hujan deras sekali. Bahkan sampai sekarang pun masih hujan deras. Tahu tidak apa yang pertama kali dikatakan ayahnya Vidi saat kami pamit? Selain mengucap terima kasih, beliau justru mengusap lengan baju kami, seperti ingin memastikan apakah kami basah atau tidak. Lalu beliau berkata, 'Kalian gak basah kan? Jangan sampai kehujanan, ya'. Ah manis sekali," tutur Chua.
"Padahal beliau tidak mengenal kami, tapi kehangatan itu diberikan kepada semua tamu yang datang. Benar-benar memastikan kami tidak kebasahan. Saat kami turun tangga untuk pulang, kami bertemu lagi dengan Vadi. Dia pun berkata, 'Jangan kehujanan, ya'. Ya Allah, sebaik itu semuanya. Satu keluarga," tambahnya.
Dari pengalaman melayat ke rumah duka Vidi Aldiano itu, Chua menarik kesimpulan bahwa pantas saja banyak orang bersaksi betapa baiknya almarhum Vidi Aldiano, keluarganya pun sebaik itu.