Seiring waktu, sudut pandang Aurelie berubah. Dia menyadari bahwa menerima apa yang pernah terjadi merupakan bagian penting dari proses pemulihan. Dari kesadaran itulah Broken Strings lahir, bukan sebagai ajang pembuktian, melainkan upaya memahami diri sendiri.
“Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku. Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah,” tegas Aurelie.
Respons publik yang datang kemudian menjadi hal di luar dugaannya. Namun bagi Aurelie, dukungan dari pembaca hanyalah pelengkap. Yang utama, buku ini telah menjadi titik balik dalam perjalanannya berdamai dengan masa lalu.
“Ketika ada perempuan muda dan orang tua yang bilang mereka merasa terbantu, aku merasa proses ini tidak sia-sia. Tapi yang paling penting, aku akhirnya bisa berdamai dengan diriku sendiri,” pungkasnya.