Simak Cara Memuaskan Suami pada Masa Nifas Menurut Islam

Punta Dewa
Cara memuaskan suami pada masa nifas menurut Islam (Foto: Reuters)

Dalam hadits disebutkan,

 اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ 

“Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haidh) selain jima’ (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302) 

Adapun dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan,

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ 

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami hadidh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haidh, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haidh di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haidh atau selain kemaluannya. 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

 لَكِنْ لَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ مِنْ الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ بِمَا فَوْقَ الْإِزَارِ وَسَوَاءٌ اسْتَمْتَعَ مِنْهَا بِفَمِهِ أَوْ بِيَدِهِ أَوْ بِرِجْلِهِ فَلَوْ وَطِئَهَا فِي بَطْنِهَا وَاسْتَمْنَى جَازَ . وَلَوْ اسْتَمْتَعَ بِفَخِذَيْهَا فَفِي جَوَازِهِ نِزَاعٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . 

“Boleh bagi seorang suami mencumbu wanita haidh atau wanita yang mengalami nifas di atas sarungnya. Ia boleh mencumbunya dengan mulut, tangan atau kakinya. Seandainya ia menyetubuhinya di perutnya, lalu keluarlah mani, maka itu masih dibolehkan. Namun jika ia mencumbu istrinya pada kedua paha istrinya (belum sampai kemaluan, pen), maka tentang bolehnya diperselisihkan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21/624) 

Jadi meskipun dalam kondisi nifas, istri dapat memuaskan suami asal tidak sampai kepada persetubuhan. Karena ada kafaratnya secara hukum Islam. Dari sisi kesehatan berjima' atau penetrasi kepada wanita haidh atau nifas ternyata banyak penyakit yang akan ditimbulkannya. 

Demikianlah penjelasan mengenai cara memuaskan suami pada masa nifas menurut Islam. Semoga bermanfaat.

Editor : Komaruddin Bagja
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kenapa Perempuan Lebih Bersemangat Setelah Haid? Begini Penjelasan Dokter

57 tahun lalu

6 Buah Bisa Bantu Redakan Kram saat Haid Murah dan Mudah Ditemui

57 tahun lalu

Jerawat Kerap Muncul Jelang Haid, Ini Cara Mengatasinya

57 tahun lalu

Tata Cara Mandi Wajib setelah Haid dan Mandi Junub

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal