Sisipan bacaan sholawat dan doa itu berkaitan dengan ayat sebelumnya. Oleh karena ada sholawat dan doa-doa yang terkait dengan ayat tertentu dalam surat Yasin itu, maka kemudian dinamai “Yasin Fadlilah”.
Membaca sholawat, doa atau kalimat lainnya di tengah-tengah surat yasin atau surat yang lain, hukumnya sunnat apabila doa atau kalimat-kalimat tersebut mempunyai keterkaitan dengan tuntutan makna ayat atau surat yang dibaca itu. Di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin juz I hal. 279 disebutkan :
وَفِيْ أَثْنَاءِ الْقِرَاءَةِ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ تَسْبِيْحٍ سَبَّحَ وَكَبَّرَ، وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ دُعَاءٍ وَاسْتِغْفَارٍ دَعَا وَاسْتَغْفَرَ، وَإِنْ مَرَّ بِمَرْجُوٍّ سَأَلَ، وَإِنْ مَرَّ بِمَخُوْفٍ اسْتَعَاذَ. يَفْعَلُ ذَلِكَ بِلِسَانِهِ أَوْ بِقَلْبِهِ.
Artinya: Di tengah-tengah membaca Al-Qur’an, ketika seseorang melewati suatu ayat yang berisi mensucikan Allah, dia bertasbih dan bertakbir, ketika melewati ayat yang berisi doa dan istighfar, dia berdo’a dan beristighfar, ketika melewati ayat yang berisi harapan dia mengajukan permohonan dan ketika melewati ayat yang berisi hal-hal yang menakutkan, dia memohon perlindungan. Itu semua dia lakukan dengan ucapan lisannya atau digerakkan dalam hatinya”.
Berdoa di tengah bacaan Al-Qur’an juga pernah dilakukan oleh Nabi SAW sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Imam An-Nasa’i :