Selain itu, dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan hadits:
أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ ، وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر
“Kalimat terbaik yang aku dan para nabi ucapkan pada senja hari Arafah adalah:
LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYA-IN QADIR (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Ath-Thabrani).
Namun, perlu dipahami bahwa menyebut kalimat LAA ILAHA ILLALLAH sebagai bacaan terbaik bukan berarti doa yang dimaksud hanya terbatas pada kalimat tersebut saja.