Angklung sendiri berasal dari bahasa Sunda ‘angkleung-angkleungan’, kata ‘angka’ memiliki arti nada dan ‘lung’ memiliki arti pecah. Jadi, Angklung merupakan alat musik yang menghasilkan nada yang pecah.
Secara bentuk, Angklung terdiri dari dua atau lebih batang bambu dalam berbagai jenis ukuran sesuai dengan kebutuhan tinggi rendahnya sebuah nada. Selain di Jawa Barat, Angklung juga bisa ditemui di daerah Kalimantan dan Sumatera Selatan.
Sejak abad ke-12 hingga abad ke-16, Angklung di lingkungan Kerajaan Sunda, dimainkan sebagai bentuk pemujaan terhadap Nyai Sri Pohaci perlambangan Dewi Kesuburan atau Dewi Sri di lingkungan Kerajaan Jawa. Seperti diceritakan dalam Kidung Sunda, saat Angklung dimainkan dapat memacu semangat dalam berperang.
Angklung jenis ini biasa dimainkan pada kesenian dogdog lojor di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul di sekitar Gunung Halimun.
Angklung jenis ini dikenalkan oleh Daeng Soetigna sekitar tahun 1938. Daeng Soetigna melakukan inovasi pada Angklung Padaeng yang mana laras nadanya menggunakan diatonis yang sesuai sistem musik barat.