Secara fisik, puasa mutih sering dikaitkan dengan proses detoksifikasi alami. Dengan menghentikan asupan makanan berat, berminyak, dan tinggi gula, tubuh seolah diberi waktu untuk 'reset'.
Tak heran, sebagian pelaku puasa mutih mengaku tubuh terasa lebih ringan, perut lebih nyaman, bahkan berat badan bisa turun dalam waktu singkat.
Selain itu, pola makan minim bumbu dan bahan tambahan juga diyakini membantu menstabilkan kadar gula darah serta mengurangi potensi peradangan dalam tubuh. Tubuh menjadi lebih 'bersih' dan responsif terhadap nutrisi dasar yang dikonsumsi.
Namun, daya tarik puasa mutih tidak hanya pada aspek fisik. Dari sisi mental, ritual ini sering dimaknai sebagai bentuk pengendalian diri. Calon pengantin menjalani proses ini untuk menenangkan pikiran, mengurangi distraksi, serta mempersiapkan diri menghadapi fase hidup baru.
Lebih dalam lagi, puasa mutih juga memiliki nilai spiritual. Tradisi ini dianggap sebagai bentuk pendekatan diri kepada Tuhan, memohon kelancaran, ketenangan, dan keberkahan dalam pernikahan. Kombinasi antara pembatasan fisik dan niat batin inilah yang membuat banyak orang merasa lebih siap secara menyeluruh.
Meski begitu, puasa mutih bukan tanpa risiko. Tanpa persiapan yang matang, praktik ini bisa menyebabkan tubuh lemas, kekurangan nutrisi, hingga gangguan kesehatan lainnya. Karena itu, para ahli menyarankan agar dilakukan secara bijak dan, bila perlu, di bawah pengawasan tenaga medis.