Kondisi tersebut dapat memicu perasaan bersalah, kehilangan kontrol diri, hingga menurunnya rasa percaya diri. Tak jarang, individu mengalami dilema karena ingin berhenti, namun tetap terdorong untuk kembali mengonsumsi konten tersebut akibat efek kecanduan.
Dampak lainnya juga merambah pada hubungan sosial. Seseorang yang terlalu sering mengonsumsi pornografi berisiko mengalami kesulitan dalam menjalin interaksi nyata dan hubungan yang bermakna.
Tidak hanya itu, ekspektasi terhadap pasangan bisa menjadi tidak realistis. Hal ini berujung pada menurunnya kualitas hubungan emosional karena fokus hanya tertuju pada stimulasi instan, bukan koneksi yang sehat.
Untuk mengatasi kecanduan tersebut, Kemenkes memberikan beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, mengenali pola kebiasaan, termasuk kapan dorongan muncul dan apa pemicunya, agar lebih mudah dihindari.
Kedua, mengurangi faktor pemicu seperti terlalu banyak waktu luang tanpa aktivitas jelas atau kebiasaan scrolling tanpa tujuan.
Ketiga, mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas positif dan bermanfaat, seperti olahraga, hobi, atau kegiatan produktif lainnya yang dapat membantu mengelola stres secara sehat.
Melalui edukasi ini, Kemenkes berharap masyarakat lebih bijak dalam mengelola stres dan tidak bergantung pada cara instan yang justru berpotensi menimbulkan dampak negatif jangka panjang.