Selain risiko fisik, Prof Tjandra juga menekankan dampak psikologis dan sosial. Remaja yang hamil di luar rencana cenderung mengalami gangguan mental seperti depresi dan seringkali terpaksa putus sekolah. Hal ini secara otomatis memutus rantai kesempatan mereka untuk mendapatkan masa depan ekonomi yang lebih baik.
Data WHO tahun 2023 bahkan lebih spesifik menyebutkan bahwa angka kelahiran pada remaja yang sangat muda, yakni usia 10–14 tahun, diperkirakan mencapai 1,5 per 1.000 wanita.
"Fenomena ini tidak boleh diabaikan, karena anak yang melahirkan anak adalah masalah kemanusiaan yang sangat kompleks," tambah Prof Tjandra.
Intervensi pemerintah melalui program edukasi seksualitas yang komprehensif dan ramah remaja sangat diperlukan. Prof Tjandra berpendapat bahwa stigma sosial seringkali membuat remaja takut untuk mengakses layanan kesehatan, yang justru membuat kondisi mereka semakin berbahaya saat terjadi kehamilan.
Ia mengingatkan bahwa kesehatan perempuan harus dilihat secara menyeluruh (comprehensive) dan mencakup seluruh jalur kehidupan (entire life course). Artinya, perlindungan kesehatan harus dimulai sejak usia anak dan remaja, bukan hanya saat mereka sudah memasuki usia produktif atau menikah.
"Kesetaraan gender hanya bisa tercapai jika remaja perempuan memiliki kendali atas tubuh dan kesehatan mereka. Tanpa itu, siklus kemiskinan dan masalah kesehatan akan terus berulang," terangnya.