Profesor Kikunae Ikeda pun bertanya-tanya, dari mana sumber cita rasa unik yang dia rasakan dalam supnya tersebut. Hingga pada 1908, Profesor Ikeda berhasil mengisolasi kristal yang memberikan cita rasa yang dia deteksi dalam sup dashi buatan istrinya tersebut. Kristal ini terbuat dari glutamat, salah satu asam amino yang paling umum ditemukan dalam makanan dan juga tubuh manusia.
Lalu pada 1909, dia memproduksi zat ini secara besar-besaran dengan cara menggabungkan glutamat dan natrium yang juga merupakan salah satu penyedap. Zat ini kita kenal sebagai Ajinomoto. Dia berhasil menemukan monosodium glutamat atau sering kita kenal dengan sebutan MSG. Kini, umami populer sebagai penyedap rasa yang digunakan untuk meningkatkan rasa sajian rendah sodium.
Terkait dengan rasa umami untuk kesehatan Prof Ahmad Sulaeman, Guru Besar Keamanan & Gizi Pangan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB mengatakan, hidup sehat dengan mengendalikan asupan garam bisa teratasi dengan hadirnya umami.
“Jika kita ingin makanan yang kita konsumsi memiliki cita rasa yang tinggi, namun juga ingin diet rendah garam, dengan menggunakan bumbu umami seperti MSG bisa dijadikan solusi. Banyak penelitian di luar negeri seperti di Jepang, menunjukkan bahwa penggunaan MSG bisa menjadi strategi diet rendah garam. Sebab, kandungan natrium dalam MSG hanya 1/3 dari kandungan natrium pada garam dapur biasa,” ungkap Prof Ahmad, dalam acara Virtual Media Gathering Ajinomoto belum lama ini.
Selain sebagai strategi diet rendah garam, Prof Ahmad mengungkapkan bahwa penggunaan bumbu umami seperti MSG pada masakan juga memiliki berbagai manfaat lain seperti meningkatkan selera makan sekaligus meningkatkan performa harian, meningkatkan pencernaan makanan berprotein, serta mampu meningkatkan produksi saliva (air liur).