Selain memberikan manfaat klinis dan keamanan yang sebanding dengan pengobatan melalui infus, penyuntikan ini juga memakan waktu yang lebih singkat, hanya 8 menit untuk suntikan pertama dan 5 menit untuk suntikan berikutnya.
Hal ini, kata Andhika jauh lebih cepat dibandingkan pemberian infus pertuzumab dan trastuzumab yang memakan waktu hingga 150 menit. "Kombinasi pertuzumab dan trastuzumab dalam satu suntikan ini ditujukan untuk pasien dengan kanker payudara HER2 positif pada stadium dini dan stadium metastatik, serta digunakan bersama dengan perawatan kemoterapi," ujarnya.
Nyaman, Cepat, dan Hemat Sumber Daya
Berdasarkan studi PHranceSCa, sebanyak 85% pasien dengan kanker payudara HER2-positif lebih memilih terapi suntik subkutan pertuzumab + trastuzumab dengan dosis tetap daripada pertuzumab + trastuzumab infus. Pasien merasa lebih nyaman selama pemberian obat dan pengobatan ini menghemat waktu, meskipun pemberian suntik sedikit lebih nyeri.
Pengobatan inovatif ini juga memberikan manfaat bagi tenaga kesehatan karena mengurangi waktu perawatan dengan cara diberikan tanpa rekonstitusi, pelarutan, penyesuaian dosis berdasarkan berat badan pasien, serta tanpa memerlukan akses jalur infus seperti kemoport.
Prof. dr. Hasbullah Thabrany, Ketua Indonesia Health Economic Association (InaHEA) dan pengamat farmakoekonomi, mengatakan, dalam menghadapi keterbatasan sumber daya kesehatan, berbagai upaya penghematan diperlukan agar lebih banyak pasien dapat mendapatkan layanan kesehatan berkualitas.