Inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi juga menekan efek samping terapi. Banyak pasien usia produktif tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari selama proses pengobatan berlangsung.
"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," ujarnya.
Di sisi lain, tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas kerap dianggap sebagai gangguan pernapasan biasa.
Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker paru saat sudah memasuki stadium III atau IV. Pada tahap ini, pengobatan menjadi jauh lebih kompleks dan membutuhkan strategi terapi yang lebih agresif.
"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan. Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien,” kata dr Tanujaa.