"Di berbagai dosis, kami melihat bioavailabilitas yang baik dan cepat, yang berarti obat tersebut tidak cepat terurai di dalam tubuh," kata Mannowetz.
Rata-rata, dibutuhkan dua hingga tiga hari agar kadar obat yang tersedia dalam darah berkurang setengahnya. Ini adalah hasil yang menjanjikan yang menunjukkan bahwa pil tersebut mungkin hanya diperlukan sekali sehari jika nantinya terbukti efektif dalam mengurangi sperma.
Mannowetz memperkirakan bahwa jika obat tersebut akhirnya disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), dosis akhir yang akan tersedia di pasaran kemungkinan akan mendekati dosis yang lebih tinggi yang diuji, yaitu 180 mg, meskipun uji coba lanjutan akan membantu para ilmuwan menentukan dosis optimal yang tepat.
Tim peneliti tidak mencatat adanya efek samping yang merugikan terkait obat tersebut.
"Keuntungan dari obat kontrasepsi non-hormonal adalah, secara teori, kemungkinan efek samping tertentu seperti perubahan fungsi seksual, libido, atau suasana hati lebih kecil," ujar Mannowetz.