Dia meluruskan anggapan yang menyebut sperma berkepala runcing lebih mudah menembus sel telur. Menurutnya, bentuk yang tidak normal justru menjadi indikasi sperma mengalami gangguan sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal.
"Karena kepalanya rusak, kadang dia jadi pergerakannya nggak bagus, segala macam. Ibaratnya spermanya tuh cacat lah. Contoh sperma lainnya yang cacat tuh sering ekornya patah, lehernya bengkok," katanya.
Selain kelainan pada kepala, sperma juga bisa mengalami gangguan pada bagian leher dan ekor. Ekor yang patah atau leher yang bengkok membuat sperma kesulitan bergerak cepat menuju sel telur sehingga peluang terjadinya pembuahan menjadi lebih rendah.
Kondisi tersebut tidak selalu menyebabkan pria mandul, tetapi dapat menjadi salah satu faktor yang membuat pasangan lebih sulit memperoleh kehamilan. Karena itu, pemeriksaan analisis sperma menjadi salah satu langkah penting bagi pria yang mengalami gangguan kesuburan.
Untuk meningkatkan kualitas sperma, dr. Jefry menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat secara konsisten. Mengonsumsi suplemen saja tidak cukup apabila tidak dibarengi perubahan gaya hidup.
"Kalau orang cuman berharap dari suplemen aja, itu perbaikannya enggak signifikan," ujarnya.
Dia menyarankan pria menjaga pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, mempertahankan berat badan ideal, menghindari rokok dan alkohol, serta mencukupi waktu tidur. Kebiasaan tersebut dapat membantu memperbaiki kualitas sperma, termasuk morfologinya, sehingga peluang memiliki keturunan menjadi lebih baik.