Dia menjelaskan, kondisi tersebut sering kali tidak terdengar melalui pemeriksaan biasa karena keterbatasan pendengaran manusia.
"Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut," katanya.
Berangkat dari masalah tersebut, dr. Rony mengembangkan AI yang mampu menganalisis suara paru-paru pasien secara lebih sensitif dibandingkan pendengaran manusia. Teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi apakah masih terdapat cairan di paru-paru sebelum pasien diizinkan pulang.
"Kami mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini lho masih ada air, ini lho masih ada cairan, sehingga pasien yang kami periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu," jelasnya.
Ke depan, teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk digunakan di rumah sakit, tetapi juga dapat dimanfaatkan pasien secara mandiri di rumah. Pasien cukup menggunakan stetoskop portabel yang terhubung dengan aplikasi di ponsel untuk melakukan pemeriksaan sederhana.