Ia menjelaskan, terapi konservatif umumnya menjadi pilihan pertama apabila kerusakan jaringan masih tergolong ringan hingga sedang. Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi nyeri, mengembalikan fungsi gerak, sekaligus mempercepat proses penyembuhan tanpa operasi.
Namun, apabila ditemukan robekan jaringan yang berat, ketidakstabilan sendi, atau kerusakan struktur yang mengganggu fungsi tubuh secara signifikan, tindakan operasi dapat menjadi pilihan agar pasien dapat kembali beraktivitas secara optimal.
Meski demikian, operasi bukanlah akhir dari proses penyembuhan. Pasien tetap memerlukan rehabilitasi medis agar kekuatan otot, fleksibilitas, keseimbangan, dan fungsi gerak dapat pulih secara bertahap.
Hal senada disampaikan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Seraphim Medical Center, dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.KO. Menurutnya, banyak orang terburu-buru kembali berolahraga setelah rasa sakit menghilang, padahal tubuh belum tentu siap menerima beban aktivitas seperti sebelumnya.
"Pendekatan kedokteran olahraga juga berperan dalam proses back to sport, yaitu pendampingan bertahap setelah cedera agar seseorang tidak hanya bebas dari rasa sakit, tetapi juga memiliki kekuatan, fungsi gerak, kontrol tubuh, dan kesiapan fisik untuk kembali berolahraga," kata dr. Nahum.
Ia menegaskan, keberhasilan penanganan cedera tidak hanya diukur dari hilangnya nyeri, tetapi juga kemampuan tubuh menjalankan fungsi gerak secara normal tanpa meningkatkan risiko cedera berulang.
Karena itu, dokter menyarankan masyarakat tidak mengabaikan cedera yang muncul saat berolahraga. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menentukan tingkat keparahan cedera sekaligus memilih terapi yang paling tepat, sehingga pemulihan berlangsung optimal dan seseorang dapat kembali berolahraga dengan aman.