“Jadi ketiga hal ini yang menyebabkan terjadinya ada infeksi pada manusia. Tidak bisa ada nyamuknya dan ada manusia, tetapi nyamuknya tidak ada, tentu tidak akan terjadi penularan. Ataupun jika misalnya di hutan hanya ada monyet dan nyamuk, nah kemudian tidak ada penularan kepada manusia,” katanya.
Dia menerangkan beberapa gejala yang terjadi saat manusia terkena Malaria Knowlesi ini belum bisa dibedakan dengan jenis malaria lainnya. Gejalanya antara lain demam dengan siklus tertentu atau naik turun, menggigil, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, lemas, mual muntah disertai batuk dan nyeri perut. Bahkan gejala-gejala itu bisa menyebabkan sesuatu yang lebih parah karena siklus dari parasit yang cepat.
“Karena yang saya sampaikan tadi, siklus hidupnya itu sangat cepat, maka dia dengan cepat dapat menambah jumlah parasit di dalam tubuh sehingga infeksi bisa dengan cepat menjadi berat. Nah tanda-tandanya ialah trombosit yang turun dengan cepat bisa menjadi sesak nafas, bisa gagal ginjal, bisa menjadi kuning, sampai terjadi kesadaran menurun,” kata dr Inke.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir karena obat dari Malaria Knowlesi sudah ada dan obat tersebut sama dengan penyakit malaria lainnya yaitu Artemisinin-based Combination Therapy. Namun penanganan terhadap seseorang yang terjangkit penyakit ini harus cepat agar tidak terjadi infeksi berat.
“Tetapi tentunya ini harus segera ditangani, lebih baik ketika terjadi diagnosis, maka pemberian obat itu diberikan dalam 48 jam untuk mencegah jangan sampai terjadinya infeksi yang berat tadi,” katanya.
Dia menegaskan, tidak disarankan memberikan obat mandiri seperti antibiotik. Sebab, penyakit malaria hanya bisa diobati dengan obat anti malaria.
“Dan tentunya perlu menghindari pemberian obat pengobatan sendiri, termasuk dengan pemberian antibiotik, karena untuk infeksi malaria tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik, harus dengan antimalaria,” kata dr Inke.