Gina yang realistis berselisih dengan Nirwan soal konsep pesta yang dianggapnya terlalu berlebihan. Gina keberatan jika harus berutang, sedangkan Nirwan menganggap semuanya bisa dikejar nanti.
Pertengkaran demi pertengkaran muncul. Gina merasa Nirwan memaksanya, sementara Nirwan merasa Gina terlalu dingin dan kurang bersemangat. Sampai akhirnya saat penyebaran undangan pun jadi pemicu konflik baru.
Gina ingin semua tertata dan selesai tepat waktu, tapi Nirwan justru terkesan menunda-nunda. Perbedaan gaya komunikasi dan prinsip hidup itu melebar hingga mereka saling diam. Keluarga mulai bertanya-tanya, tapi keduanya sama-sama menghindari topik itu.
Di tengah kegamangan, Gina mengungkapkan keraguannya pada sahabatnya: ia tak yakin bisa menjalani hidup bersama Nirwan yang sangat berbeda dengannya. Cinta, katanya, mungkin bisa menyatukan di awal, tapi setelah itu hanya akan tersisa benturan nilai dan pandangan. Di sisi lain, Nirwan melarikan diri ke dunia DJ untuk mengalihkan pikirannya, meyakini bahwa Gina sebenarnya tidak mencintainya sepenuh hati.
Beberapa waktu kemudian, mereka mencoba bicara dari hati ke hati. Gina mengatakan bahwa hubungan mereka tak bisa dilanjutkan, bukan karena tak ada cinta, melainkan karena visi hidup yang terlalu bertolak belakang. Nirwan mengusulkan untuk mencoba konseling. Namun, dalam sesi konseling itu, saat ditanya secara terpisah, keduanya memberi jawaban yang sama mereka ingin membatalkan pernikahan.