Tak hanya menampilkan sutradara Indonesia, proyek tersebut menghadirkan jajaran pemain ternama nasional. Film Annisa diperkuat Choirunnisa Fernanda, Nazira C. Noer, dan Shakeel Fauzi dalam cerita emosionalnya. Holy Crowd dibintangi Prilly Latuconsina bersama Yusuf Mahardika dan Arswendy Bening Swara.
Film Original Wound menghadirkan Agnes Naomi, Omara Esteghlal, serta Vivian Idris sebagai pemeran utama. Sedangkan Mothers Are Mothering dibintangi Happy Salma dan Asmara Abigail dengan karakter kompleks. Kehadiran para aktor tersebut memperkuat daya tarik proyek Indonesia di Cannes tahun ini.
Deretan kru film Indonesia juga mengisi posisi penting dalam empat produksi internasional tersebut. Faozan Rizal menggarap visual film Annisa karya Reza Rahadian. Sementara itu, Vera Lestafa dipercaya menangani sinematografi Holy Crowd dan Original Wound sekaligus. Deska Binarso bertanggung jawab membangun pendekatan gambar Mothers Are Mothering secara sinematik. Retno Ratih Damayanti turut bergabung sebagai penata kostum untuk seluruh proyek film pendek. Selain itu, Sigit D. Pratama dipercaya menjadi production designer dalam produksi kolaboratif tersebut.
Produser Yulia Evina Bhara bersama Amerta Kusuma memimpin keseluruhan produksi Next Step Studio Indonesia. Sejumlah nama besar industri perfilman turut bergabung sebagai produser eksekutif proyek tersebut. Dian Sastrowardoyo, Prilly Latuconsina, dan Angga Dwimas Sasongko termasuk di dalam daftar. Kementerian Kebudayaan RI mendukung penuh pelaksanaan kolaborasi sinema lintas negara tersebut. Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kedutaan Besar Prancis.
“Indonesia harus jadi bagian penting ekosistem sinema global,” ujar Direktur Film, Musik dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan, Jakarta sedang dipersiapkan menjadi Kota Sinema internasional.
“Industri film dapat mendorong pertumbuhan wisata dan ekonomi kreatif secara bersamaan. Dampak ekonominya harus dirasakan langsung masyarakat. Jadi sedang dirancang berbagai insentif untuk produksi film nasional di Jakarta,” kata Rano Karno.