Disutradarai oleh Upie Guava, film ini menggunakan teknologi XR untuk membangun lanskap Mars yang imersif. Meski demikian, Upie menegaskan teknologi hanyalah alat, bukan tujuan utama.
Baginya, yang lebih penting adalah bagaimana cerita mampu berbicara kepada anak-anak tanpa terasa menggurui. Isu krisis lingkungan dan perubahan iklim memang menjadi latar cerita, tetapi tidak disampaikan secara berat.
"Anak-anak tidak suka digurui," kata Upie.
Menurutnya, pesan tentang menjaga Bumi diselipkan secara halus melalui petualangan, persahabatan Pelangi dengan robot-robot interaktif, serta pencarian ayahnya. Anak-anak diajak memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap masa depan, tanpa merasa diceramahi.
Pendekatan ini lahir dari pengalaman pribadi Upie sebagai orang tua. Dia terbiasa mendongeng kepada anak-anaknya sebelum tidur, sering kali tanpa naskah.
Pola bercerita yang spontan dan emosional itulah yang membentuk ritme film ini, kapan cerita memuncak, kapan memberi ruang haru, dan kapan menghadirkan humor.
Bicara soal pengisi suara, film anak ini melibatkan nama-nama hebat, antara lain Bimoky, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya. Kristo Immanuel, yang mengisi suara robot Yoman, mengapresiasi keseriusan tim produksi.