"Ini adalah film-film karya orang-orang yang menganggap serius pekerjaan mereka dan dampaknya bagaimana hal itu mempengaruhi koeksistensi kita, pertempuran kita, rekonsiliasi kita, sejarah dan kisah kita, bagaimana kebersamaan, keindahan, dan solidaritas dialami dan bagaimana kita membentuk masa kini dan masa depan sosial, budaya, ekologis, dan politik kita,” kata Barbara dalam keterangan resminya, Jumat (16/1/2026).
Sementara, Joko Anwar mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini. Menurut Joko, kurasi Berlinale Forum sangat mementingkan relevansi sebuah karya terhadap situasi di negara asalnya.
"Section ini dikenal karena kurasinya yang tidak hanya terpaku pada narasi, tetapi juga kekuatan relevansi sosial dan politiknya," ujar Joko.
Senada dengan Joko Anwar, produser Tia Hasibuan juga melihat seleksi ini sebagai pengakuan atas bahasa sinema dan ide besar yang dibawa film karya Joko.
Dengan masuknya film itu ke Berlinale, ia juga menegaskan bahwa film tersebut merupakan karya genre yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga memiliki bobot gagasan dan bahasa sinema yang kuat.