Ironisnya, motor yang dipamerkan di hadapan publik ternyata diambil kembali oleh pihak dinas dengan alasan anggaran dari Pemkab Polman belum cair. Dia mengaku malu dan trauma dengan kejadian ini.
“Saya merasa malu dan kecewa. Awalnya senang karena itu motor pribadi, ternyata malah motor dinas, itu pun hanya simbolis,” katanya. Teman-teman juga bertanya, Mana motormu? Rasanya malu sekali. Ini seperti dipermainkan di hadapan publik,” ucapnya.
Kendati demikian dia tetap berbesar hati menjalankan tugasnya sebagai bidan di daerah terpencil.
“Saya tetap ikhlas menjalankan tugas saya. Ibu hamil dan balita di desa ini lebih penting bagi saya. Insya Allah, ini menjadi pelajaran,” katanya.