Di posisi berikutnya, MRT Jakarta mencatat 4,3 juta penumpang, sementara LRT Jakarta melayani sekitar 118 ribu penumpang pada periode yang sama. Perbedaan angka ini mencerminkan jangkauan layanan dan kapasitas masing-masing moda.
Kebijakan tarif Rp1 diprediksi mendorong lonjakan penumpang secara signifikan, terutama bagi masyarakat yang sebelumnya masih bergantung pada kendaraan pribadi. Momentum ini sekaligus menjadi uji efektivitas integrasi transportasi publik Jakarta.
Ke depan, Pemprov DKI Jakarta berharap peningkatan jumlah pengguna transportasi umum terus berlanjut seiring perbaikan layanan dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Tarif murah seperti ini dinilai menjadi strategi efektif untuk mengubah pola mobilitas warga secara bertahap.