Menurutnya, penghargaan tersebut baru diterima setelah laporan keempat yang dikirim berhasil diverifikasi oleh tim NASA.
Minat Ibrahim terhadap dunia siber bermula dari hobinya bermain gim. Sang ayah kemudian mengarahkannya untuk mempelajari coding dan membuat gim sejak duduk di bangku kelas IV SD. Namun, seiring waktu, Ibrahim justru lebih tertarik mendalami bidang keamanan siber.
"Awalnya belajar coding untuk membuat game. Setelah mengenal cyber security, saya merasa bidang ini lebih menantang. Cita-cita saya ingin menjadi profesional di bidang cyber security," katanya.
Ayah Ibrahim, Aminuddin Salas, menjelaskan bahwa awalnya ia hanya ingin mengalihkan hobi bermain gim putranya menjadi aktivitas yang lebih produktif melalui pembelajaran pemrograman.
"Awalnya saya arahkan supaya tidak hanya bermain game, tetapi belajar membuat game lewat coding. Perjalanannya kami dokumentasikan di media sosial, lalu banyak yang menyarankan Ibrahim mencoba belajar cyber security. Akhirnya dia belajar secara otodidak hingga mampu menemukan celah keamanan pada beberapa sistem, termasuk milik NASA," ujarnya.
Aminuddin yang juga merupakan guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMK Negeri 1 Kemusu mengatakan dirinya hanya memberikan bekal dasar mengenai komputer. Selanjutnya, Ibrahim mengembangkan kemampuannya secara mandiri melalui proses belajar yang konsisten.
Sebelum mendapat penghargaan dari NASA, Ibrahim juga pernah menerima sertifikat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Lampung setelah melaporkan kerentanan pada salah satu sistem elektronik milik pemerintah daerah tersebut.
Prestasi Ibrahim menjadi bukti bahwa usia muda dan berasal dari daerah bukanlah hambatan untuk meraih pengakuan internasional. Dengan semangat belajar dan ketekunan, siswa asal Boyolali itu berhasil menunjukkan kemampuan di bidang teknologi dan keamanan siber hingga diapresiasi oleh NASA.