Pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) turut menegaskan bahwa pelayaran yang aman di Selat Hormuz hanya dapat dilakukan melalui rute yang telah disetujui pemerintah Iran.
Peringatan itu muncul setelah militer Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal kargo berbendera Singapura dengan proyektil saat melintas di Selat Hormuz pada Kamis (25/6/2026). Insiden tersebut menjadi serangan pertama yang dilaporkan sejak Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara pada pekan sebelumnya.
Mengutip Al Monitor, Organisasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebut kapal tersebut terkena proyektil yang belum diketahui jenisnya di sisi kanan lambung kapal. Serangan terjadi sekitar 7,5 mil laut di tenggara Dahit, Oman.
Pasca-insiden itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengumumkan penghentian sementara operasi pendampingan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Program tersebut sejatinya baru dimulai pada Selasa (23/6/2026) untuk membantu kapal-kapal yang terdampak penutupan jalur pelayaran di kawasan tersebut.