“BI punya dua instrumen utama yang sekarang ini digunakan oleh BI untuk mengatur likuiditas dalam rangka menjamin stabilitas. Pertama, suku bunga, suku bunga dinaikkan, tetapi disisi lain Bank Indonesia itu juga yang seperti saya jelaskan sebelumnya melakukan operasi moneter yang menyerap likuiditas,” tuturnya
Sejak diterbitkan pada 17 September 2024, penerbitan SRBI telah mencapai Rp918,42 triliun. Piter memandang, hal yang menjadi persoalan saat ini adalah likuiditas negara masih ‘kering’ alias menipis.
Menurutnya, jumlah uang beredar saat ini masih di bawah pertumbuhan ekonomi, karena itu harus diwaspadai.
“Jadi pertumbuhan sederhananya gini, kalau pertumbuhan jumlah uang beredar di bawah pertumbuhan ekonomi itu uda gak wajar karena uang dibutuhkan untuk membiayai ekonomi,” kata dia.
“Ketika ekonominya sendirinya tidak cukup dibiayai oleh jumlah uang, pertumbuhan uangnya itu kondisinya pasti tidak sehat. Dampak keringnya likuiditas adalah suku bunga tetap tinggi,” ujarnya.