Zhang menyebut, China perlu mengambil tindakan cepat dan agresif untuk menghindari risiko ekspektasi deflasi yang tertanam di kalangan konsumen.
China kesulitan mendapatkan kembali momentum ekonominya sejak berakhirnya pembatasan Covid-19 pada akhir tahun 2022, dan para investor yang gelisah telah membuang saham-saham China di tengah krisis properti yang semakin parah dan risiko utang pemerintah daerah.
Permintaan global juga masih relatif lemah, dengan survei resmi menunjukkan aktivitas di sektor manufaktur China mengalami kontraksi pada bulan Januari.
Saham perusahaan China melemah tak lama setelah data CPI lemah sebelum kembali pulih, dibantu oleh langkah-langkah dukungan cepat baru-baru ini.
Sementara, perekonomian China tumbuh sebesar 5,2 persen pada tahun 2023, memenuhi target resmi sebesar 5 persen. Namun, pemulihannya jauh lebih buruk dari perkiraan investor.