Bank Sentral Nepal Naikkan Suku Bunga untuk Tahan Inflasi dan Ancaman Penurunan Cadangan Devisa

Aditya Pratama
Bank Sentral Nepal menaikkan suku bunga acuannya menjadi 8,5 persen dari sebelumnya 7 persen. (Foto: Reuters)

Rupee telah terdepresiasi sebesar 6,64 persen terhadap dolar dalam 12 bulan hingga pertengahan Juli. Ini membuat impor produk minyak bumi, pupuk, dan bahan makanan menjadi lebih mahal.

Sementara, utang luar negeri Nepal meningkat lebih dari dua kali lipat dari 3,8 miliar dolar AS pada 2012 menjadi 7,77 miliar dolar AS pada 2022. 

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan target inflasi sebesar 7 persen untuk tahun fiskal, sementara menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 8 persen.

Kenaikan itu juga dapat memperlambat kegiatan ekonomi setelah dua tahun pandemi. 

"Menaikkan suku bunga bank akan berdampak negatif pada industri karena bunga pinjaman akan naik," ucap mantan presiden Federasi Kamar Dagang dan Industri Nepal, Pashupati Murarka. 

Negara dengan jumlah penduduk 29 juta orang ini sebelumnya telah memperpanjang larangan impor barang mewah hingga akhir Agustus. Hal ini bertujuan untuk mengekang arus keluar modal menyusul penurunan cadangan devisa.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Mendagri Pantau Dampak Kenaikan Harga Pertamax terhadap Inflasi

57 tahun lalu

Purbaya soal Kenaikan Harga Pertamax jadi Rp16.250: Dampak ke Inflasi Relatif Minim

57 tahun lalu

Gubernur BI Ungkap 4 Paket Operasi Moneter untuk Jaga Nilai Tukar Rupiah

57 tahun lalu

Breaking News: BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal