Sangat masuk akal bila fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing bisa memengaruhi naik-turunnya harga saham di pasaran. Terutama bagi perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor.
Faktor lain yang memicu terjadinya pasar bearish dan bullish adalah kondisi ekonomi makro atau suatu negara, misalnya naik-turunnya suku bunga akibat kebijakan bank sentral Amerika, fluktuasi suku bunga acuan Bank Indonesia, tingkat inflasi, dan tingginya angka pengangguran akibat gejolak politik juga bisa membuat indeks harga saham berubah.
Sejak awal tahun 2020, dunia dinyatakan darurat pandemi global akibat virus Covid-19. Buntutnya, isu resesi pun santer terdengar di beberapa negara, tak terkecuali Indonesia. Kondisi ini kemudian membuat harga efek pada bursa saham di dunia mengalami penurunan.