"Pertamina pernah mengebor sumur yang memakan waktu hingga satu tahun dengan biaya triliunan, namun ternyata dry hold. Jadi industri ini sangat high risk dan high investasi, dan high technology. Kalau mendanai sendiri Pertamina nggak akan mampu. Saking besarnya risiko dan investasi yang diperlukan untuk industri ini, kita butuh investasi luar negeri, perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak," katanya.
Lebih lanjut, Nanang Abdul Manaf juga menyepakati pandangan Kathy tentang kepastian regulasi dan tingkat keamanan guna meminimalisir risiko. Untuk meningkatkan investor dari luar negeri, kata Nanang, pertama-tama harus meningkatkan prospektivitas eksplorasi di Indonesia.
"Prospektivitas eksplorasi adalah penyediaan data, hasil studi-studi yang komprehensif dan terintegrasi sehingga risiko untuk kegagalan atau dry hold itu diperkecil. Prospectivity sangat penting kalau mau mendatangkan investor asing," tuturnya.
Sementara itu, Fathul Nugroho menyoroti tentang industri hulu migas yang memiliki tantangan dan risiko sangat besar, nilainya hingga miliaran dollar. Pertamina berkompetisi dengan negara-negara di seluruh dunia.
"Saat ini investasi luar negeri untuk industri migas di sektor hulu kebanyakan ke Amerika Utara, sekitar 40 persen, di Middle East sekitar 20-30 persen, sisanya 30 persen ke seluruh dunia. Kita memperebutkan sisa investasi yang sebesar 30 persen tersebut," tuturnya.