Nicke menyebut, pada tahun 2012-2014 cost dari biaya di tahun tersebut mencapai 93-94 persen. Namun, pada tahun 2022 cost semakin ramping hingga mencapai 89 persen.
"Kita lihat yang paling memberikan kontribusi sebetulnya di pengeluaran. Kalau kita lihat itu ada penghematan dan kalau bicara 4-5 persen dari 84 miliar dolar AS itu bukan angka kecil dan ga bisa satu dua program, ini program cost optimal. Ada 267 program yang kita garap selama tahun 2022 untuk melakukan cost efficient, dan revenue tahun 2022 tahun terbaik dan kita berharap ini akan terus tumbuh berkelanjutan," kata Nicke.
Tak hanya laba, pendapatan Pertamina di 2022 juga mencapai 84,89 miliar dolar AS, naik 48 persen dari 2021 yang mencapai 57,5 miliar dolar AS. Adapun, EBITDA Pertamina di 2022 mengalami lonjakan 47 persen menjadi 13,59 miliar dolar AS dari tahun 2021 sebesar 9,26 miliar dolar AS.
Selain itu, Nicke menyampaikan bahwa Pertamina Group berkontribusi terhadap penerimaan negara mencapai Rp307,2 triliun pada 2022. Angka tersebut terdiri dari pajak, dividen, PNBP, minyak mentah maupun kondensat bagian negara, dan signature bonus.
Jumlah setoran ke negara meningkat 83 persen dibandingkan 2021. Khusus setoran pajak, Pertamina telah membayarkan sebesar Rp219,06 triliun pada 2022, meningkat 88 persen dibandingkan 2021.
“Pencapaian ini tentu berkat kerja bersama seluruh Perwira Pertamina. Kinerja positif ini juga tentu tidak terlepas dari dukungan Pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, dan Kementerian ESDM,” ucapnya.