Demi menyambung hidup istri dan tiga putranya, Utayana harus memutar segala daya yang dia punya lantaran sepi pengunjung. Saat badai belum benar-benar reda, cobaan lain datang.
Putra sulungnya, Farhan Cahyana Kusnadi yang kala itu tengah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Institut Pesantren Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, masih memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Belum lagi, Utayana juga harus memenuhi kebutuhan putra keduanya, Muhammad Nico Fadilah yang masih duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Babakan Assalafie Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, dan putra bungsunya Fauzan Aulia Triana, siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Jihadiyah, Jaksel.
Di saat yang sama, lahan yang disewa Utayana untuk mendirikan warung selama 23 tahun dijual pemiliknya. Pemilik baru membangun rumah di atas lahan tersebut. Praktis, warung kecil milik Utayana harus tutup. Begitu pula sumber pendapatannya.
Setahun berselang, secercah asa muncul. Utayana mendapat tempat baru untuk berjualan tak jauh dari lokasi yang lama. Dia memulai segalanya dari awal untuk membangun kembali warung dan harapannya.