Qatar merupakan salah satu produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Sementara Uni Emirat Arab (UEA) adalah produsen minyak OPEC yang mempertajam fokusnya pada pasar gas karena Eropa berusaha untuk menggantikan impor energi Rusia setelah pemotongan pasokan sejak sanksi Barat pada Moskow atas invasi ke Ukraina.
Menteri Energi UEA, Suhail al-Mazroueis sepakat bahwa gas akan dibutuhkan untuk waktu yang sangat lama, khususnya untuk negara Eropa. Sekalipun lebih banyak energi terbarukan akan dipasang, maka akan banyak investasi dibutuhkan dalam gas sebagai basis.
"Seluruh dunia perlu memikirkan sumber daya dan bagaimana memungkinkan perusahaan memproduksi lebih banyak gas agar tersedia dan terjangkau," ucap Mazrouei.
Mazrouei menambahkan, cukup banyak strategi yang kurang jelas dari banyak negara dan pada akhirnya mempersulit untuk berkomitmen pada kontrak gas jangka panjang. Ke depannya, hal itu justru mempersulit perusahaan energi untuk mendapatkan pembiayaan untuk berinvestasi dalam pengembangan kapasitas produksi.
Saat persaingan LNG memanas, Jerman tahun lalu mencapai kesepakatan pasokan 15 tahun untuk LNG Qatar mulai 2026. Sementara, QatarEnergy telah menandatangani kontrak 27 tahun untuk memasok Sinopec China.
Kaabi, yang juga CEO QatarEnergy, mengatakan negosiasi sedang berlangsung dengan banyak pihak di seluruh dunia.
“Pembeli Eropa dan Asia banyak, dan ada potensi akhir tahun seluruh ekspansi Qatar akan terjual habis,” ucapnya.