“Ini tadinya daerah banjir, jadi diuruk semua kemarin mungkin ada 10 truk tanah merah,” ujarnya.
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini mengatakan keberadaan fasilitas baru membuat aktivitas menanam menjadi lebih maksimal. Dia mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman di bidang pertanian saat mulai mengelola lahan kosong tersebut.
“Hobinya sebenarnya bukan menanam, saya dulu hobinya mengajar,” katanya.
Yuliana bersama sejumlah warga kemudian belajar menanam secara autodidak. Awalnya mereka hanya menanam kangkung dan beberapa jenis sayuran sederhana sebelum akhirnya berkembang menjadi kebun hidroponik.
“Pertama kali kami menanam kangkung dulu, hidroponik ini belum ada,” ujarnya.