Krisis Properti China Jadi Ancaman Baru Pertumbuhan Ekonomi Global, Ini Dampaknya Bagi Negara Berkembang

Iqbal Dwi Purnama
Tembok China. (Foto: Reuters)

JAKARTA, iNews.id - Krisis properti China dikhawatirkan menjadi ancaman baru bagi pertumbuhan ekonomi global setelah konflik geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina dan pandemi Covid-19, juga perubahan iklim. Tak main-main, krisis properti China diperkirakan berdampak menekan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, terutama negara-negara berkembang.

Industri properti di China saat ini sedang dalam kondisi yang cukup sulit. Banyak pengembang yang tidak bisa melanjutkan pembangunan yang diakibatkan oleh pembatasan pinjaman kepada lembaga keuangan.

Hal tersebut merupakan turunan dari kebijakan yang disebut "tiga garis merah". Tujuannya untuk mengempeskan gelembung properti di China yang sudah terjadi selama beberapa dekade belakangan. 

Kebijakan tersebut memiliki tujuan ganda. Pertama, mengurangi ketergantungan ekonomi yang berlebihan pada properti. Kedua, meredam spekulasi yang membuat harga rumah di luar jangkauan banyak orang di kelas menengah.

Managing Director Teneo, Perusahaan Analisis Risiko, Gabriel Wildau, mengatakan krisis properti yang terjadi di China merupakan ulah dari kebijakan pemerintah.

Editor : Jeanny Aipassa
Artikel Terkait
15 hari lalu

Purbaya Optimistis Defisit APBN 2026 Terjaga di 2,85 Persen, Ini Faktornya

18 hari lalu

Kontribusi Ekonomi Jakarta ke PDB Nasional Naik Jadi 16,67 Persen, Pramono: Fondasi Semakin Kuat

24 hari lalu

Purbaya Siapkan Kredit Bunga 4 Persen untuk UKM Eksportir, Dorong Pertumbuhan Ekonomi

26 hari lalu

AHY Pimpin Rakor Kebandarudaraan, Siapkan Transformasi Bandara Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal