Seiring waktu berkembang, rantai toko milik Vernon bertambah, yang mayoritas dikuasai oleh keluarga terdekat. Inovasi diterapkan untuk menjangkau konsumen di setiap level usia. Optimalisasi dan efisiensi diterapkan dalam proses pembuatan.
Roti yang umumnya berbentuk bulat dengan lubang di tengah itu akhirnya semakin digemari warga negeri Paman Sam. Ide-ide pembuatan donat dengan bebagai varian mulai bermunculan. Tak hanya itu, toko donat pun menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Dunkin Donuts yang berdiri di Massachusetts pada 1950.
Bagi warga Indonesia, jaringan waralaba Dunkin Donuts tidak asing di telinga, dibandingkan Krespe Kreme. Hal ini disebabkan Dunkin' Donuts menjadi perusahaan donat multinasional yang pertama kali masuk ke Indonesia.
Di balik kesuksesannya, siapa sangka pendiri Dunkin Donuts berasal dari seorang pria yang saat masa bocahnya mengalami putus sekolah. Adalah William Rosenberg, seorang imigran Yahudi dari Eropa Timur yang tumbuh wilayah kelas pekerja Boston dan dididik di sekolah umum.
Pasca-Perang Dunia ke-II, Rosenberg meminjam sekitar 1.000 dolar AS dan menggunakan pengetahuannya tentang distribusi makanan untuk membuka perusahaan pertamanya tentang "Layanan Makan Siang Industri", sebuah perusahaan yang mengirim makanan dan camilan kopi untuk para pekerja pabrik di pinggiran Boston, Massachusetts.