Inflasi Cetak Rekor, Bank Sentral Eropa Kembali Naikkan Suku Bunga 75 Bps

Suparjo Ramalan
Inflasi cetak rekor, Bank Sentral Eropa kembali naikkan suku bunga 75 bps

Di samping kenaikan harga, kawasan tersebut sedang berjuang melawan perlambatan ekonomi yang memburuk. Itu membuat pekerjaan bank sentral semakin sulit karena kenaikan suku bunga cenderung melemahkan permintaan lantaran membuat pinjaman menjadi lebih mahal.

Krisis energi, yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina telah membebani sektor-sektor seperti manufaktur. Pada saat yang sama, krisis biaya hidup yang lebih luas telah menekan pengeluaran untuk barang dan jasa.

Menurut ukuran aktivitas di sektor manufaktur dan jasa yang diterbitkan pada Senin pekan ini, penurunan ekonomi zona euro semakin dalam pada Oktober. S&P Global’s Purchasing Managers’ Index menunjukkan, Jerman mengalami kontraksi ekonomi paling tajam, sementara pertumbuhan di Prancis terhenti.

Lagarde mengakui risiko terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jelas pada sisi negatifnya. 

"Aktivitas ekonomi kemungkinan akan melambat secara signifikan pada kuartal III tahun ini dan kami memperkirakan pelemahan lebih lanjut di sisa tahun ini dan awal tahun depan," ucapnya.

Lagarde menuturkan, bank-bank Eropa memperketat standar kredit pada pinjaman karena mereka menjadi lebih peduli tentang risiko yang dihadapi oleh pelanggannya dengan kondisi saat ini. Dan meskipun prospek ekonomi suram, Lagarde mengatakan, ECB masih memiliki 'ground to cover' dan akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. 

"Tujuan akhir yang ingin kami capai adalah tingkat yang akan memberikan target inflasi 2 persen dalam jangka menengah. Kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Tugas kami adalah menjaga stabilitas harga," tuturnya.

Menurut Kepala Ekonom di ING Germany Carsten Brzeski, ECB telah memulai siklus pendakian tertajam dan paling agresif yang pernah ada, yang menunjukkan perubahan paradigma di bank sentral.

"Pada saat resesi yang membayangi dan ketidakpastian yang tinggi, normalisasi kebijakan moneter adalah satu hal tetapi pindah ke wilayah yang membatasi adalah hal lain. Dengan kenaikan suku bunga saat ini, ECB telah mendekati titik di mana normalisasi bisa menjadi terbatas,” tulis dia dalam risetnya.

Editor : Jujuk Ernawati
Artikel Terkait
Nasional
5 hari lalu

Kerja Pemerintah Pascabencana Berbuah Hasil: Inflasi di Aceh, Sumut dan Sumbar Berbalik Deflasi

Bisnis
6 hari lalu

Ekonom Ungkap Inflasi Januari 2026 Bukan Dipicu Lonjakan Harga, Ini Penjelasannya

Nasional
7 hari lalu

RI Deflasi 0,15 Persen di Januari 2026 gegara Makanan-Minuman dan Tembakau

Nasional
11 hari lalu

Pemerintah Siapkan Diskon Transportasi hingga Bansos Beras untuk Jaga Inflasi Jelang Lebaran

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal