Untuk accessibilities sendiri, terdapat beberapa perseroan plat merah seperti PT Angkasa Pura (Persero) atau AP, PT Garuda Indonesia (Persero), dan Maskapai Penerbangan Lion Air. Tugas yang dilakukan adalah pengembangan Infrastruktur, kerja sama dengan PT Sarinah (Persero) dan UMKM dalam menggenjot produk lokal di bandara. Serta kerja sama dengan maskapai penerbangan lain untuk mengoptimalkan manajemen penumpang.
"Untuk amenities, selain hotel, juga di sini IDTC sebagai pengembang pariwisata, akan kerja sama baik dengan merk lokal maupun internasional. Sama juga attraction, kita lihat juga seperti Jatim Park yang sudah kita MoU kan untuk beberapa titik wisata," katanya.
Sebelumnya, Kementerian BUMN membentuk empat klaster utama guna mendorong kinerja bisnis holding Aviasi dan Pariwisata. Di mana, kedelapan emiten dimasukkan ke dalam empat klaster secara terpisah. Keempatnya adalah, klaster Airlines, klaster Airports, klaster Manajemen Destinasi, serta klaster Service Aviasi dan Logistik.
Untuk klaster Airport diisi oleh AP I Airports dan AP 2. Klaster Manajemen Destinasi diisi ITDC, TWC, Hotel Inna, Aerowisata, Garuda Indonesia Holiday France. Sedangkan klaster Airlines ada Garuda Indonesia dan Pelita Air Service.
Sementara klaster Aviasi dan Logistik di dalamnya ada Gapura, Angkasa Pura Solusi, GMF Indonesia, Garuda Indonesia Kargo, Angkasa Pura Kargo, Aero Express, Angkasa Pura Supports, Aerofood ACS, dan Sarinah. Erick menargetkan pembentukan klaster ini akan rampung pada dua tahun mendatang atau 2021-2022.