Secara spesifik, Agung merinci, harga batubara dibuka pada angka 65,93 dolar AS per ton pada Januari 2020. Sempat menguat sebesar 0,28 persen di angka 67,08 dolar AS per ton pada Maret dibanding Februari sebesar 66,89 dolar AS per ton, namun melorot pada April (65,77 dolar AS), Mei (61,11 dolar aS), Juni (52,98 dolar AS), Juli (USD52,16) dan Agustus (50,34 dolar AS). "Puncaknya ada di September dimana harganya hanya 49,42 dolar AS per ton," kata Agung.
Harga Batubara kembali pulih (rebound) dalam tiga bulan terakhir, yaitu Oktober (51 dolar AS), November (55,71 dolar AS) dan Desember (59,65 dolar AS). "Supply dan demand tetap menjadi faktor perubahan (harga) utama di luar Covid-19 yang belum sepenuhnya terkendali," ujar Agung.
Sebagai informasi, faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
Sementara untuk faktor penurunan demand dipengaruhi kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.
Nantinya, HBA pada Januari ini akan digunakan penentuan harga batubara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).