Selain itu, Nicke mengatakan, kenaikan harga minyak dunia melampaui target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Pertamina pada 2022. Bahkan, diproyeksikan ke depannya harga minyak mentah dunia belum juga mengalami penurunan.
"Kalau kita lihat ini realisasinya sangat jauh dibandingkan dengan apa yang ditargetkan di dalam APBN maupun di dalam RKAP Pertamina di 2022, dan kita juga memproyeksi ke depan, Kalau hari ini di juli di sekitar 139 dolar AS, di akhir tahun pun diduga juga belum turun banyak masih kita prediksi di sekitar 127 dolar AS untuk yang dated brand maupun yang produk, jadi baik crude maupun produk itu masih belum bisa turun banyak," ucapnya.
Adapun Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar yang dijual Pertamina sebesar Rp5.150 per liter. Sementara harga keekonomian berada di level Rp18.150 per liter. Artinya, selisih yang harus ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi mencapai Rp13.000 per liter.
Untuk Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite sebesar Rp7.650 per liter. Besaran ini jauh di bawah harga keekonomian Juli 2022 yang kini mencapai Rp17.200 per liter. Artinya selisihnya mencapai Rp9.550 per liter.
Lalu, Pertamax dijual Pertamina Rp12.500 per liter. Untuk harga keekonomian produk Pertamax per Juli 2022 mencapai Rp17.950 per liter. Ini berarti ada selisih harga jualnya mencapai Rp5.450 per liter.
Sementara itu, harga jual LPG subsidi juga masih dibanderol sebesar Rp4.250 per kg. Padahal harga keekonomiannya sudah mencapai Rp15.698 per kg. Artinya ada selisih harga yang harus ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi mencapai Rp11.448 per kg.