Dibayangi Resesi Global, Sektor Properti Indonesia Tetap Prospektif

Jeanny Aipassa
Ilustrasi properti. (Foto: dok Dekoruma)

Imbas kebijakan itu akan mempengaruhi pasar seperti terindikasi dari indeks kepercayaan konsumen dan penurunan indeks manufaktur. Persoalan serupa juga bakal dirasakan sektor properti sebagai salah satu pilar perekonomian nasional.

Meski demikian, John menilai sektor properti tetap berpeluang mengalami pertumbuhan, karena dari segi investasi, properti masih menjadi aset yang baik di tengah kondisi ekonomi saat ini.

“Jika sektor properti bisa diselamatkan, saya yakin daya tahan ekonomi nasional menjadi lebih kuat,” ungkap John.

Dia juga merespon positif langkah Bank Indonesia  untuk melanjutkan kebijakan relaksasi rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti maksimal 100 persen.

Awalnya insentif itu akan berakhir pada Desember 2022, namun Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 19-20 Oktober memutuskan untuk memperpanjang hingga akhir 2023.

Editor : Jeanny Aipassa
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Rupiah Anjlok Sentuh Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini, BI Ungkap Penyebabnya

57 tahun lalu

BRI KPR Solusi Promo hingga Tenor 20 Tahun dan Bunga Mulai 2,50%, Makin Mudah Miliki Properti Impian

57 tahun lalu

BI Buka Suara soal Rupiah Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS

57 tahun lalu

BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Borong Dolar AS, Ini Alasannya!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal